Mimihitam

  • Archive
  • RSS
  • Ask me anything
banner

Dialog Seorang Professor dengan Muridnya

Disalin dari https://www.facebook.com/notes/jessica-siscawati/dialog-seorang-professor-dengan-muridnya/305591526201589?notif_t=note_comment

image

Dialog seorang profesor dengan muridnya mengenai teodisi atau upaya untuk merekonsiliasi keberadaan Tuhan dengan kejahatan telah menyebar luas di dunia maya. Seorang murid dikisahkan berhasil membantah pernyataan professor yang digambarkan “sombong.” Biasanya di akhir kata ditambahkan embel-embel ” murid itu adalah Albert Einstein”, yang jelas salah karena Einstein tidak percaya Tuhan personal, namun kepada Tuhannya Baruch Spinoza, yaitu keserasian hukum alam. Selain mencatut nama Einstein, dialog ini juga memiliki kesalahan logika yang fatal. Berikut adalah perbaikan untuk dialog tersebut yang diterjemahkan dari http://www.rationalresponders.com/debunking_an_urban_legend_evil_is_a_lack_of_something dengan sedikit adaptasi. Sementara itu, kalau mau lihat kisah aslinya yang ngawur bisa dilihat di http://novrya.blogspot.nl/2011/01/profesor-yang-tidak-punya-otak.html

image

image

Alkisah, seorang profesor filsafat menantang muridnya: “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.

Seorang mahasiswa menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.

“Tuhan menciptakan semuanya?”, tanya professor sekali lagi.

“Ya, Pak, semuanya”, kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, “Nah, ini ada teka-teki logika untuk kalian. Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab pernyataan professor tersebut.

Seorang mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”

“Tentu saja,” jawab si professor, “itulah inti dari diskursus filsafat.”

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”

“Tentu saja,” ungkap si professor. Raut muka si professor tidak berubah karena ia sudah mendengar argumen buruk seperti ini berulang kali.

Si murid menanggapi, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

Sang professor pun menjawab dengan tegas: “Kamu ingat bab mengenai kesesatan semantik dalam bukumu?”

Si murid tampak bingung.

“Biar saya ulangi secara singkat. “Panas” dan “dingin” adalah istilah subjektif. Menurut John Locke, keduanya merupakan contoh “kualitas sekunder”. Kualitas sekunder merujuk kepada bagaimana kita merasakan suatu fenomena yang memang ada, dan dalam kasus ini pergerakan partikel atomik. Istilah “dingin” dan “panas” merujuk kepada interaksi antara sistem saraf manusia dengan variasi kecepatan dalam partikel atomik di lingkungan. Jadi apa yang sesungguhnya ada adalah suhu… istilah “panas” dan “dingin” hanyalah istilah subjektif yang kita gunakan untuk menjelaskan pengalaman kita mengenai suhu.”

“Maka argumen Anda salah. Anda tidak membuktikan bahwa “dingin” itu tidak ada, atau bahwa “dingin” ada tanpa status ontologis, apa yang Anda lakukan adalah menunjukkan bahwa “dingin” adalah istilah subjektif. Hapuskanlah konsep subjektif tersebut, dan suhu yang kita sebut “dingin” akan tetap ada. Menghapuskan istilah yang kita gunakan untuk merujuk kepada suatu fenomena tidak menghapuskan keberadaan fenomena tersebut.”

Murid: (agak shock) “Uh… oke… em, apakah gelap itu ada?”

Professor: “Anda masih mengulangi kesesatan logika yang sama, hanya kualitas sekundernya yang diganti.”

Murid: “Jadi menurut professor kegelapan itu ada?”

Professor: “Apa yang saya katakan adalah bahwa Anda mengulangi kesesatan yang sama. “Kegelapan” adalah kualitas sekunder.”

Murid: “Professor salah lagi. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. “Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Professor: “Gelap dan terang” adalah istilah subjektif yang kita gunakan untuk mendeskripsikan bagaimana manusia mengukur foton atau partikel dasar cahaya secara visual. Foton itu memang ada, sementara “gelap” dan “terang” hanyalah penilaian subjektif kita… yang sekali lagi terkait dengan interaksi antara sistem saraf manusia dengan fenomena alam yang lain, yaitu foton. Jadi, sekali lagi, hapuskanlah istilah subjektif itu dan foton akan tetap ada. Jika manusia menyebut “foton sebanyak x” sebagai “gelap” sementara kucing menyebutnya “cukup terang untukku”, foton sebanyak x yang kita sebut sebagai “gelap” tetap ada, dan akan tetap akan ada walaupun kita tidak menyebutnya gelap. Sudah paham, atau masih kurang jelas?”

Sang murid tampak tercengang.  Sang professor berkata, “Tampaknya Anda masih bingung dengan kesesatan dalam argumen Anda. Tapi silakan lanjutkan, mungkin Anda akan paham.”

Sang murid berkata, “Professor mengajar dengan dualitas. Professor berargumen tentang adanya kehidupan lalu mengajar tentang adanya kematian, adanya Tuhan yang baik dan Tuhan yang jahat. Professor memandang Tuhan sebagai sesuatu yang dapat kita ukur.”

Professor langsung memotong, “Berhati-hatilah. Jika Anda menempatkan Tuhan di luar jangkauan nalar, logika dan sains dan membuatnya “tak terukur”, maka yang tersisa hanyalah misteri yang Anda buat sendiri. Jadi jika Anda menggunakan dalih bahwa Tuhan ada di luar jangkauan untuk menyelesaikan masalah, Anda juga tak bisa mengatakan bahwa Tuhan Anda bermoral. Bahkan Anda tak bisa menyebutnya sebagai apapun kecuali tak terukur. Jadi solusi Anda tidak ada bedanya dengan membersihkan ketombe dengan memangkas rambut.”

Murid tersebut tercengang, namun tetap berusaha melanjutkan, “Professor, sains bahkan tidak dapat menjelaskan sebuah pemikiran. Ilmu ini memang menggunakan listrik dan magnet, tetapi tidak pernah seorangpun yang melihat atau benar-benar memahami salah satunya..”

Professor: “Anda mengatakan bahwa sains tak bisa menjelaskan pikiran. Saya sendiri kurang paham apa yang Anda maksud. Apakah Anda mencoba mengatakan bahwa masih banyak misteri dalam neurosains?”

Murid: “Begitulah.”

“Dan bahwa pikiran, listrik dan magnetisme itu kita anggap ada walaupun tak pernah kita lihat?”

“Benar!”

Sang professor tersenyum dan menjawab, “Bukalah kembali bukumu mengenai kesesatan false presumption. Perhatikan bab “kesalahan kategoris.” Kalau Anda pernah membacanya, Anda akan ingat bahwa kesalahan kategoris adalah saat Anda menggunakan tolak ukur yang salah untuk suatu entitas, misalnya menanyakan warna dari suara. Meminta seseorang melihat magnetisme secara langsung merupakan kesalahan kategoris.”

“Namun, masih ada kesalahan lain dalam argumen Anda. Anda berasumsi bahwa empirisisme atau bahkan sains hanya didasarkan kepada pengamatan langsung. Ini tidak tepat. Penglihatan bukanlah satu-satunya cara untuk memahami dunia, dan sains juga bukan ilmu yang mempelajari apa yang kita lihat. Kita dapat menggunakan indera lain untuk melacak suatu fenomena. Dan kita juga dapat mempelajari pengaruh fenomena tersebut terhadap dunia.”

“Lebih lagi, Anda kembali melakukan kesalahan dengan menyatakan bahwa karena sains itu belum lengkap berarti Tuhan itu ada. Mungkin Anda perlu mempelajari kembali kesesatan “argumentum ad ignoratiam” atau argumen dari ketidaktahuan.”

“Dan juga, seperti yang dikatakan oleh Neil deGrasse Tyson, gunakanlah contoh yang lebih baik karena sains sudah mampu menjelaskan bagaimana pikiran terbentuk dan bahkan Maxwell sudah lama menggabungkan elektrisme dan magnetisme menjadi elektromagnetisme. Contoh yang lebih baik itu misalnya materi gelap yang membuat perluasan alam semesta menjadi begitu cepat. Fisikawan tak bisa menjawab itu, dan mungkin Anda akan mengatakan jawabannya Tuhan. Namun dengan begitu, Anda justru sedang menyusutkan Tuhan. Anda melakukan kesesatan ad ignoratiam bahwa yang belum dijelaskan sains itu adalah keajaiban Tuhan, dan itu berarti Anda menempatkan Tuhan untuk mengisi gap dalam sains. Nah, dahulu manusia juga tak mampu menjawab mengapa hujan terbentuk atau mengapa gunung meletus, dan orang-orang dulu menyebutnya karena Tuhan. Kini kita sudah memahami hujan dan gunung meletus, begitu pula pikiran, listrik dan magnetisme, dan ke depannya materi gelap juga mungkin akan kita pahami. Dengan begitu Tuhan yang mengisi gap pun terus menciut.”

“Masih ada yang mau ditambahkan? Apakah penjelasan saya sudah cukup jelas?”

Sang murid tampak bingung dan mencoba melakukan ad nauseam, “Em…  kembali ke diskusi awal kita. Untuk menilai kematian sebagai kondisi yang berlawanan dengan kehidupan sama saja dengan melupakan fakta bahwa kematian tidak bisa muncul sebagai suatu hal yang substantif. Kematian bukanlah kontradiksi dari hidup, hanya ketiadaan kehidupan saja.”

Professor pun berkata, “Apakah Anda jatuh cinta dengan kesesatan kualitas sekunder? Lagi-lagi Anda melakukan kesalahan yang sama.” “Kematian” dan “kehidupan” adalah istilah subjektif yang kita gunakan untuk menjelaskan fenomena keadaan-keadaan biologis. Menghapuskan istilah subjektif kematian tidak menghapuskan keberadaan kematian.

Si murid pun mencoba mengalihkan pembicaraan, “Apakah imoralitas itu ada?”

Si professor menggelengkan kepalanya dan berkata, “Keledai pun tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama. Ada yang masih kurang jelas, atau perlu saya ulangi lagi?”

Sang murid yang terus berusaha menjustifikasi kepercayaannya berkata, “Begini.. imoralitas itu adalah ketiadaan moralitas. Apakah ketidakadilan itu ada? Tidak. Ketidakadilan adalah ketiadaan keadilan. Apakah kejahatan itu ada? Bukankah kejahatan itu ketiadaan kebaikan?”

Sang professor menanggapi, “Jadi, jika seseorang membunuh ibumu malam ini, tidak terjadi apa-apa? Hanya ada ketiadaan moralitas di rumah Anda? Tunggu… dia tidak mati… cuma ketiadaan hidup kan?”

Si murid berkata, “eh…”

“Sekarang sudah mengerti di mana salahnya?”, ujar sang professor, “Anda mencampur kualitas sekunder dengan fenomena. “Imoralitas” adalah istilah deskriptif untuk perilaku. Istilah tersebut bersifat sekunder, namun perilaku tetaplah ada. Jadi jika Anda menghapuskan kualitas sekunder itu, Anda tidak menghapuskan perilaku yang sesungguhnya terjadi. Dengan mengatakan imoralitas sebagai ketiadaan moralitas, Anda tidak menghapuskan keinginan atau perilaku imoral, tetapi hanya istilah subjektifnya. Begitu lho.”

Si murid masih kukuh, “Apakah professor pernah mengamati evolusi itu dengan mata professor sendiri?”

Sang professor sudah bosan mendengar argumen “pernah lihat angin tidak”.

image

“Evolusi itu bisa diamati karena hingga sekarang masih berlangsung. Misalnya, pada tahun 1971, beberapa kadal dari pulau Pod Kopiste di Kroasia dipindah ke pulau pod Mrcaru. Pulau Pod Kopiste tidak banyak tumbuhan sehingga memakan serangga, sementara di pulau Pod Mrcaru ada banyak tumbuhan. Setelah ditinggal selama beberapa dekade, ketika ditemukan kembali, kadal di pulau Pod Mrcaru mengalami proses evolusi. Kadal tersebut mengembangkan caecal valve, yaitu organ yang penting untuk mengolah selulosa dalam tumbuhan, yang sebelumnya tidak ada. Atau, jika Anda pergi ke laboratorium Richard Lenski di Amerika Serikat, Anda bisa saksikan sendiri bagaimana bakteri e coli yang sebelumnya tak bisa mengolah asam sitrat, karena evolusi dengan seleksi alam muncul e coli yang bisa mengolah asam sitrat.”

“Lagipula, Anda lagi-lagi terjeblos dalam kesesatan ad ignoratiam. Jika ingin konsisten dengan logika Anda, Anda akan mengatakan bahwa pohon tidak pernah tumbuh karena Anda tak pernah melihat langsung bagaimana pohon tumbuh. Lebih lagi, Anda kembali melakukan kesalahan dengan mengasumsikan bahwa sains itu hanya terdiri dari pengamatan langsung…. “

Si murid memotong, “Apakah ada dari kelas ini yang pernah melihat otak Profesor? Apakah ada orang yang pernah mendengar otak Profesor, merasakannya, menyentuhnya atau menciumnya? Tampaknya tak seorang pun pernah melakukannya. Jadi, menurut prosedur pengamatan, pengujian dan pembuktian yang disahkan, ilmu pengetahuan mengatakan bahwa professor tidak memiliki otak. Dengan segala hormat, bagaimana kami dapat mempercayai pengajaran professor?”

Si professor tertawa dan menjawab, “Terima kasih sudah hadir di kelas ini sehingga saya bisa membenarkan kesalahan Anda walaupun Anda terus menerus mengulanginya. Sekali lagi, sains itu tidak terbatas kepada “melihat” sesuatu. Sains itu juga rasional. Kita dapat menyimpulkan berdasarkan bukti yang ada. Dan salah satu simpulan yang dapat saya tarik dengan mengamati perilaku Anda  hari ini adalah bahwa Anda telah membuang-buang uang karena tidak membaca buku logika yang sudah Anda beli. Jadi saya sarankan bacalah buku itu kembali dari halaman satu agar tidak terus menerus mengulangi kesalahan yang sama.”

- Dan murid itu adalah orang yang tidak banyak membaca…

    • #teodisi
    • #tuhan
  • 11 months ago
  • 3
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Allah melindungi gereja, Islamis menyerangnya

oleh Mustafa Akyol

akyol@mustafaakyol.org

New York Times kemarin menerbitkan dua pendapat yang sama-sama mengkhawatirkan mengenai kefanatikan di Indonesia (“Indonesia’s Rising Religious Intolerance,” oleh Benedict Rogers, dan “No Model for Muslim Democracy,” oleh Andreas Harsono). Menurut kedua artikel tersebut, di negara yang mayoritas penduduknya bermazhab Sunni ini sedang terjadi serangkaian kekerasan terhadap minoritas seperti “Bahai, Kristen, Syiah, Sufi dan Ahmadiyyah.”

Khususnya, gereja-gereja telah diserang oleh orang-orang Islam garis keras. Mereka telah menekan pejabat setempat agar “tidak mengizinkan pembangunan gereja atau mengintimidasi mereka yang sedang beribadat di gereja ‘ilegal’.” Maka, seorang walikota telah mengobarkan kebijakan “tanpa gereja.” Lebih buruk lagi, tiga gereja di Sumatra pada tahun lalu dibakar oleh “militan Muslim.”

Sebagai seorang Muslim, saya merasa malu akan berita-berita tersebut. Kekerasan terhadap non-Muslim (atau Muslim “kafir”) telah merugikan orang-orang yang tak bersalah dan juga menghina Islam. Lebih lagi, militan Islamis yang menyerang komunitas beriman lain tidak hanya melanggar hak asasi manusia. Mereka juga melanggar Al-Quran sendiri.

Hal ini tampak jelas dalam kasus gereja atau sinagoga. Tempat ibadah Kristen atau Yahudi tersebut disebut di Al-Quran hanya sekali, dan sangat menarik:

“Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.” (Surat 22 Ayat 40)

Seperti yang dapat Anda lihat, ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah melindungi “biara, gereja, sinagoga” bersamaan dengan masjid. Dalam kata lain, mereka yang menyerang tempat suci tersebut bertentangan dengan kehendak Allah. (ahli-ahli Islam telah membincangkan makna ayat ini, dan menurut konsensus ayat tersebut menghormati “biara, gereja, sinagoga” dengan menyejajarkannya dengan masjid. Beberapa ahli seperti Ad-Dahhak juga menyatakan bahwa definisi “yang di dalamnya banyak disebut nama Allah” tidak hanya merujuk ke masjid tapi juga tempat ibadah lain yang telah disebutkan.)

Atas dasar ini, bersamaan dengan beberapa ayat Quran yang mirip dan tindakan Nabi Muhammad yang menghargai orang Kristen, peradaban Islam telah menoleransi orang Kristen sejak awal. Penaklukan Islam di Timur Tengah tidak menghancurkan atau melarang gereja. Seperti yang saya tekankan dalam buku saya, “Islam without Extremes: A Muslim Case for Liberty,” pemerintahan Muslim awal bahkan memperbolehkan pembangunan gereja Kristen, seperti yang ditunjukkan oleh bukti arkeologis. (Baru kemudian tradisi pemasjidan gereja terbesar di suatu kota muncul, seperti yang terjadi di Haghia Sophia di Konstantinopel.)

Maka, mengapa hari ini beberapa Islamis membenci dan menyerang gereja Kristen, sehingga melanggar Al-Quran yang berusaha mereka tegakkan?

Jawabannya kompleks, namun dapat dijelaskan secara sederhana: apa yang mengkhawatirkan bagi para militan Islam adalah “Islam sebagai identitas” dan bukan “Islam sebagai iman.” Dalam kata lain, mereka disetir oleh komunalisme fanatik, yang melihat dunia dalam dikotomi “Islam melawan yang lain”, dan yang mengabaikan semua nilai-nilai umum yang dimiliki oleh para Muslim. Akibatnya, mereka menyerang gereja yang dilindungi Quran, atau melarang kata “Allah” digunakan oleh orang Kristen (seperti yang terjadi di Malaysia) meskipun Quran menyatakan bahwa orang Islam dan Kristen menyembah Tuhan yang sama (Sura 29, verse 46).
Kecenderungan ini, yang sebelumnya sudah saya sebut sebagai “Islamo-tribalisme,” merupakan penghinaan terhadap Islam. Dan itulah mengapa pemimpin Muslim di Indonesia dan di mana pun harus melawannya.

http://www.hurriyetdailynews.com/allah-protects-churches-islamists-attack-them—.aspx?pageID=449&nID=21360&NewsCatID=411#.T7xFluNuUYc.facebook

    • #Islam
    • #toleransi
  • 12 months ago
  • 1
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Sekulerisasi Bahasa : Pemisahan yang Tak Disadari

Artikel ini diterbitkan di Majalah Bhinneka edisi sembilan (bisa diunduh PDFnya di http://issuu.com/bhinneka/docs/majalah-bhinneka-009-negara-sekuler/1#download )

———————————————————————————————————-

Sekulerisasi Bahasa : Pemisahan yang Tak Disadari



Sekulerisasi adalah proses pemisahan antara nilai-nilai keagamaan dengan kepentingan duniawi. Biasanya istilah ini dilekatkan dengan politik dan kenegaraan; misalnya di Perancis, paham Laicite sangat menekankan penghapusan peran agama dalam pemerintahan dan campur tangan pemerintah dalam dogma agama. Namun, proses sekulerisasi tidak semata-mata berlangsung dalam ranah politik saja. Tanpa disadari, nilai-nilai agama telah merasuki etimologi kata-kata yang biasa kita utarakan. Karenanya, upaya pemisahan nilai-nilai agama dari bahasa, atau dalam kata lain sekulerisasi bahasa, sangat mungkin terjadi.

Menurut Ullman (1963), sekulerisasi bahasa merupakan proses “perluasan semantik” atau “makna.” Ia menyatakan bahwa perubahan tersebut merupakan “perubahan semantik dan pengartian ganda.” Arti lama suatu kata akan tetap ada, tetapi arti baru juga akan diakui. Bagaimana proses sekulerisasi ini? Apakah benar pendapat Ullman, bahwa sekulerisasi bahasa memperluas maknanya?

Kata yang Berkembang Makna

Contoh sekulerisasi bahasa adalah kata holiday dalam bahasa Inggris. Kata tersebut terdiri dari holy (suci) dan day (hari). Penggunaannya berhubungan erat dengan hari raya Paskah (Leech 1974). Akan tetapi, kini kata tersebut maknanya telah bergeser. Artinya sinonim dengan vacation, merujuk pada hari libur. Arti lamanya sendiri juga masih tetap ada, meskipun sangat jarang digunakan. Contoh ekstrem lain adalah penggunaan kata “holocaust”. Sebelumnya, istilah itu membawa arti religius yang dalam. Holocaust berasal dari bahasa Yunani, holókauston, yang berarti pengorbanan binatang yang dipersembahkan untuk Tuhan. Seluruh (holos) binatang dibakar (kaustos) sepenuhnya untuk yang di atas. Akan tetapi, setelah peristiwa pembantaian kaum Yahudi oleh Jerman Nazi, istilah tersebut mengalami pergeseran makna. Orang kini mengenal holocaust sebagai pembantaian orang-orang Yahudi pada masa kekuasaan Adolf Hitler di Jerman. Namun, makna lamanya yang religius masih tetap ada di antara kalangan ahli-ahli bahasa Yunani Kuno.

Pertanyaan yang dapat dicetuskan kepada gagasan sekulerisasi bahasa adalah “untuk apa?” dan “kenapa bisa terjadi?” Steve Bruce berpendapat bahwa sekulerisasi menekankan ketiadaan perbedaan dan mendukung sifat egalitarian. Selain itu, beliau juga menyatakan keragaman sebagai salah satu aspek yang “menggerogoti agama.” Jadi, jika dihubungkan, akibat adanya keragaman, sekulerisasi bahasa berlangsung untuk menekankan ketiadaan perbedaan.

Untuk lebih memperkuat proposisi tersebut, kita bisa memetik bukti empiris dari peradaban Swahili di Afrika. Peradaban Swahili tinggal di pantai timur Tanzania, Kenya, dan Mozambik. Bahasa mereka, Swahili, merupakan bagian dari rumpun bahasa Bantu. Dengan masuknya Islam, bahasa tersebut mengalami Islamisasi dan Arabisasi. Kosa kata Arab menyerbu masuk. Misalkan, untuk menyebut timur dan barat, peradaban Swahili menggunakan istilah moshariki dan maghraibi, atau untuk malaikat, malaika.

Semuanya berubah begitu Inggris datang dan menjajah. Misionaris-misionaris masuk dan menyebarkan agama Kristen, sehingga pengaruh Islam mengendur. Kepercayaan tradisional Afrika pun kembali mencuat. Ditambah lagi, datangnya penjajah membawa proses pembaratan dan modernisasi. Akibatnya, bahasa Swahili mengalami sekulerisasi, karena penggunaannya tidak terbatas hanya untuk khazanah Islami saja, tetapi juga untuk misa-misa Kristen, pendidikan, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Keragaman yang masuk menuntut bahasa Swahili untuk menjadi sekuler.

Contoh lain yang bisa dipetik adalah bahasa Ibrani. Dalam usaha perwujudan Negara Israel yang dimimpikan Theodore Herlz, Israel memerlukan suatu bahasa sebagai pemersatu diaspora Yahudi yang datang dari berbagai tempat yang beragam (Yahudi Ashkenazi berasal dari Negara-negara Jermanik, Yahudi Sephardic berasal dari Iberia, Yahudi Mizrahi berasal dari Timur Tengah; belum lagi Yahudi lain yang berada di luar pengategorian itu seperti Yahudi Etiopia atau Rusia). Maka mereka memutuskan untuk menetapkan bahasa Ibrani sebagai resmi. Bahasa ini sebenarnya merupakan bahasa liturgis, yang selama ribuan tahun hanya digunakan untuk mempelajari alkitab saja, dan terbatas pada kaum rabi. Namun, dengan perannya yang baru sebagai bahasa pemersatu para diaspora dari berbagai negeri, bahasa ini pun mengalami sekulerisasi. Bahasa Ibrani modern menjadi terpisah dalam dua ragam: pertama, Ibrani yang masih berpegang pada akar sejarahnya, dan dipelajari dalam sekolah-sekolah agama di luar negeri; kedua, yaitu bahasa Ibrani yang tersekulerisasi dan terpisah dari budaya kunonya. Contoh radikalnya adalah kata חשמל (Chashmal), yang dalam kitab Ezekiel digunakan untuk menjelaskan kereta kuda malaikat, dan kemungkinan berarti semacam api atau petir, tetapi dalam Ibrani modern malah berarti listrik. Makna lamanya yang kental dengan nilai biblikal pun tersingkirkan. Kata chashmal telah tersekulerkan.

Inilah jawaban untuk pertanyaan “untuk apa”, yang juga sudah setengah menjawab “kenapa bisa terjadi.” Untuk melengkapi, dari kedua contoh tersebut, dapat kita deduksi bahwa keragaman diakibatkan oleh perubahan sosial; maka sekulerisasi bahasa berlangsung karena terjadinya perubahan sosial dalam suatu masyarakat.

Sekulerisasi Bahasa Indonesia

Tanpa disadari, perubahan sosial yang membawa keragaman telah menyekulerkan bahasa kita. Sebagai contoh, mayoritas penduduk Indonesia pernah menganut agama Hindu. Dalam kepercayaan Hindu yang henoteistik, dewi kesuburan dikenal dengan nama Pertiwi. Maka, dalam pembendaharaan bahasa, kita mengenal ungkapan “bumi pertiwi.” Namun, dengan masuknya pengaruh Islam yang kuat dan agama-agama yang lain, orang cenderung melupakan makna lamanya yang mengandung nilai Hindu, dan menggunakan makna baru yang sekuler.

Contoh lain yang bisa digunakan adalah kata “halal” dan “haram”. Tentu merupakan sebuah pemahaman umum bahwa keduanya merupakan istilah Islami, namun maknanya cenderung bergeser saat ini. “Halal” dan “haram” tidak lagi digunakan hanya dalam konteks “menghindari babi, minuman keras, dan lain-lain,” tetapi juga dalam semantik yang lain. Misalnya, muncul pernyataan “menghalalkan segala cara.” “Halal” dalam konteks itu berarti “membenarkan.” Sementara itu, “mengharamkan jalan itu” maknanya cenderung mengarah ke “melarang.”

Sekulerisasi bahasa dalam bentuk perluasan makna, cenderung tidak disadari. Namun, jika kita mengusulkan sekulerisasi suatu bahasa, kita malah akan disambut oleh segala macam kecurigaan. Contohnya, dalam biografi Abdurrahman Wahid yang ditulis oleh Greg Barton, disebutkan bahwa “Gus Dur menuai kritik karena mencoba mengganti assalamualaikum dengan salam sekuler selamat pagi.”

Sebenarnya, kenapa sekulerisasi ini begitu ditentang? Padahal tanpa disadari sekulerisasi bahasa selalu terjadi dan tak terhindarkan. Penggunaan salam “selamat pagi” pada hakikatnya bukanlah suatu hal yang bermasalah. Namun mengapa menyebarnya pemberitaan bahwa Gus Dur mencoba mengganti “assalamualaikum” itu menuai kritik?

Dalam kasus tersebut, ada upaya untuk memisahkan nilai Islam dari salam setiap pagi; akibatnya, nilai Islam menjadi termarjinalisasi. Berdasarkan kajian antropologi lintas budaya, masyarakat yang termarjinalisasi akan melancarkan perlawanan ideologi besar-besaran. Akibatnya, masyarakat Indonesia yang beragama Muslim merasa termarjinalisasi dengan upaya Gus Dur. Maka dari itu sekulerisasi bahasa langsung dipandang dengan buruk dan penuh curiga.

Sekulerisasi bahasa sebenarnya bisa merupakan pemerkaya bahasa dengan adanya perluasan semantik. Hal tersebutlah yang membuat bahasa terus berevolusi dan berdialektika dalam melewati zaman. Tanpanya, bahasa Ibrani tak akan bisa digunakan karena “mati” jika tidak diperkaya lewat sekulerisasi; bahasa Swahili akan ketinggalan zaman dan tak mampu memenuhi kebutuhan komunikasi masyarakat; begitu pula bahasa Indonesia. Memandang sekulerisasi bahasa secara picik bukankah sifat yang tepat karena makna yang lama juga masih tetap ada. Namun, memaksakan sekulerisasi bahasa seperti Gus Dur pun juga tidak tepat. Biarkanlah bahasa tumbuh dan berevolusi sedikit demi sedikit secara alami layaknya bunga; itulah yang memperindah suatu bahasa. Memaksakan sekulerisasi bahasa hanya akan merusak proses tersebut.

Referensi

Bruce, Steve. 2002. God is Dead: Secularization in the West.

Chaves, Mark. Seculaization as Declining Religious Authority. The University of Notre Dame.

Kantora, Hadassa. Current trends in the secularization of Hebrew. Ramatgan: Department of Hebrew and Semitic Languages.

Mazrui, Ali. The Secularization of an Afro-Islamic Language: Church, State, and Market Place in the Spread of Swahili.

    • #sekulerisasi
    • #sekuler
    • #bahasa
  • 1 year ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Tawa terakhir Darwin

  Tawa terakhir Darwin 

  ditulis oleh Frans B. M. de Waal

diterjemahkan oleh Ignatius Yordan 

  

Frans B. M. de Waal, dalam membantah klaim yang menyatakan hal yang sebaliknya, menyatakan bahwa kita harus mencari kesamaan antara kejiwaan manusia dengan hewan lain untuk memahami kejiwaan keduanya.  

Pada tahun 1739, filsuf Skotlandia David Hume menulis: “Saat hipotesis diajukan untuk menjelaskan kejiwaan yang berlaku baik untuk manusia maupun binatang, kita harus menerapkan hipotesis yang sama untuk keduanya.” Satu abad kemudian, Darwin menunjukkan bahwa semua bentuk kehidupan berasal dari satu nenek moyang yang sama. Akan tetapi, hingga saat ini, gagasan bahwa manusia dan binatang memiliki karakteristik dan kemampuan yang sama (termasuk yang sifatnya kejiwaan) sebagai akibat dari sejarah evolusi yang sama masih sulit diterima beberapa orang.

Misalnya, dalam kritiknya terhadap pendekatan evolusioner kesadaran,1Johan Bolhuis dan Clive Wynne melabeli antropomorfisme Charles Darwin sebagai sesuatu yang tidak mungkin. Mereka mempertanyakan orang-orang yang seperti Darwin, yaitu yang meyakini bahwa “dalam kemampuan kejiwaan, tidak ada perbedaan yang mendasar antara manusia dengan mamalia besar lainnya.” Mereka menyatakan bahwa upaya untuk melacaktemu kesadaran yang seperti manusia dalam binatang lain mengakibatkan munculnya interpretasi yang berlebihan.

Saya tidak sependapat. Pendekatan antropodenial yang berlawanan – penolakan a priori terhadap kontinuitas antara manusia dengan hewan lain – telah membuat orang meremehkan binatang. 2 Hingga abad terakhir, psikolog komparatif telah memaksa binatang untuk melakukan tugas-tugas laboratorium yang tidak berkaitan dengan masalah mereka di alam. “Behaviourisme” ini tidak pernah memajukan pemahaman kita mengenai kesadaran yang kini maju berkat Darwinisme. 

Teori evolusioner memperkirakan kemiripan kognitif berdasarkan hubungan antara spesies dengan habitatnya. Teori tersebut juga memberi tahu kita bahwa apabila spesies yang berhubungan dekat (baik itu gurita dan cumi-cumi atau manusia dan simpanse) memberikan tanggapan yang mirip dalam keadaan yang mirip, interpretasi yang paling sedikit asumsinya adalah bahwa kognisi yang terlibat juga mirip. Manusia dan kerabat terdekatnya baru saja berpisah sehingga mengasumsikan bahwa leluhur bersama menunjukkan kognisi bersama bukan merupakan sesuatu yang antropomorfis.

Vanessa Woods dan bonobo, gambar oleh Vanessa Woods

Vanessa Woods dan bonobo, gambar oleh Vanessa Woods

Banyak bukti yang mendukung pernyataan ini, yang sebagian besar ditemukan karena peneliti telah menetapkan kapasitas manusia sebagai titik awal. Hanya manusia yang dianggap mampu mengenali wajah dari susunan hidung, mata, mulut, dan lain-lain. Namun, primata lain juga bisa dan substrat saraf yang terlibat juga mirip.3 Sementara itu, bonobo, monyet emas, dan berbagai mamalia sosial lainnya berciuman, merangkul, merawat, mengawini atau menyetubuhi lawan mereka setelah pertarungan. Menyebut hal ini sebagai “rekonsiliasi”, yang berasal dari interaksi antar manusia, merupakan sesuatu yang tepat karena hal-hal tersebut mengurangi stres dan memperbaiki hubungan sosial.4 Sebaliknya, upaya untuk mengkhususkan kemampuan manusia, seperti klaim mengenai budaya, imitasi, perencanaan dan kemampuan untuk menerapkan cara pandang orang lain, jarang dilakukan dengan cermat selama lebih dari satu dasawarsa.

Sejarah evolusi perilaku lain mungkin lebih panjang. Misalnya, semprotan oksitosin (hormon dan neurotransmitter yang dimiliki semua mamalia) di hidung dapat meningkatkan kecenderungan seseorang untuk membagikan uangnya. Hormon yang terkait, yaitu vasopressin, dapat memperkuat ikatan antar pasangan hewan pengerat, dan pengaruh oksitosin terhadap primata yang bukan manusia sedang diuji.

Bahkan spesies yang sedikit lebih jauh, seperti gajah, lumba-lumba, primata dan burung, sama-sama memiliki sejarah evolusi yang dapat menjelaskan kemiripan kognitif di antara mereka, sampai homologi dalam instruksi genetik yang mendasari mata dan otot lalat dan hewan pengerat. Misalnya, ilmuwan neurosains pertama kali menemukan neuron cermin dalam macaque, namun setelah itu mereka menemukannya dalam burung gereja rawa, yang menunjukkan bahwa neuron cermin ada dalam nenek moyang burung dan mamalia. Neuron tersebut menembakkan impuls saat sang hewan melakukan suatu tindakan dan saat ia melihat atau mendengar orang lain melakukan tindakan tersebut, dan neuron ini diduga mendasari imitasi dan empati pada manusia.

Beberapa kemiripan dalam perilaku merupakan akibat dari evolusi konvergen, yaitu saat spesies mengalami evolusi kemampuan kognitif yang mirip sendiri-sendiri karena mereka dihadapkan kepada tekanan seleksi yang berbeda. Misalnya, burung yang menyimpan makanan harus tahu kapan pesaing dapat melihatnya. Mereka menggunakan tipuan yang mirip dengan simpanse dan primata lain yang hidup di kelompok besar.5 Begitu pula monyet capuchin dan gagak Kaledonia Baru yang menggunakan cara yang sama karena masalah yang mirip. Akan tetapi, kita tak dapat mengabaikan peran nenek moyang bersama karena perbedaan otak burung dengan mamalia tidak seperti yang pernah dikira. 

Akhir kata, tidak ada alasan ilmiah yang bagus untuk tidak memperhatikan pendekatan evolusioner atau untuk mencemooh spekulasi Darwin mengenai kontinuitas antara manusia dengan hewan lain, termasuk “selera humor” – bahkan suara kera yang terengah-engah saat bermain diketahui mirip dengan tawa manusia. Siapapun yang mengamati primata, gajah atau gagak yang bermain juga akan menyadari bahwa Darwinlah yang tertawa terakhir. 

Referensi 

[1] Bolhuis, J. J. & Wynne, C. D. L. Nature 458, 832–833 (2009).  

[2] de Waal, F. B. M. (1999). Anthropomorphism and anthropodenial: Consistency in our thinking about humans and other animals. Philosophical Topics 27: 255-280. 

[3] Parr, L. A., et al. (2009). Face processing in the chimpanzee brain. Current Biology. 

[4] de Waal, F. B. M. (2000). Primates - A natural heritage of conflict resolution. Science 289: 586-590. 

[5] Emery, N. J., & Clayton, N. S. (2004). The mentality of crows: Convergent evolution of intelligence in corvids and apes. Science 306: 1903-1907.  

    • #evolusi
  • 1 year ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

The Thinker: Is Atheism Allowed?

This is my article published in The Jakarta Globe at 27 January 2012. Enjoy :)

The Thinker: Is Atheism Allowed?

by Yordan Nugraha | January 27, 2012

 ‘Atheism does not violate Pancasila. All Indonesians may consciously and rationally choose their own beliefs. The country’s very foundation protects their right to do so.’ (Photo courtesy of Karl Karnadi)

Alexander Aan, a civil servant in Dharmasraya, West Sumatra, was beaten and charged with blasphemy after writing “God does not exist” on his Facebook page. 

The response has ranged from condemnation by several international organizations to support by local citizens and the Indonesian Council of Ulema. Many people have invoked the first principle of Pancasila, the state ideology, to make the argument that atheism — and Alexander — have no place in Indonesia. 

But is this really the case? Has atheism been banned by Pancasila since the dawn of the Indonesian state? Since the argument is based on the text of a legal document, let’s examine this question from a legal perspective. 

The first principle of Pancasila says the nation of Indonesia shall be based on the belief in the one and only God. It is usually interpreted literally. As a result, nonbelievers, and atheists in particular, are often accused of violating the nation’s philosophical foundation. Their way of thinking is seen as incompatible with the country’s fundamental “monotheistic” tenet. 

This is a naive and simplistic view of Pancasila. Interpreting any philosophy is not all about the exact meaning of the words; it is about context and the systematical connections. 

In legal science there are two methods of interpretation: historical and teleological. A historical interpretation requires an examination of the historical context in which a statute was created. With teleological reasoning, it is the goal of a statute that matters most. 

Historically, the first principle of Pancasila, belief in one supreme God, has been a compromise between secular nationalists, Islamic nationalists and nationalists from other religions. It had its origins in the first principle of the Jakarta Charter, the obligation to hold Muslims to Shariah law. 

When the non-Muslim nationalist founders protested the charger, a compromise was reached: The belief in one supreme God was codified into Pancasila instead.

If this historical context is further analyzed in a goal-oriented, teleological way, it is evident that the first principle of Pancasila was not intended to ban atheism. It was meant to bring together the different religions of Indonesia in a fair-minded, compromising manner. 

Some might still insist that every statute must be interpreted precisely as it was written. This, of course, is exceedingly problematic if you consider the six officially “recognized religions” of Indonesia: Islam, Catholicism, Protestantism, Confucianism, Hinduism and Buddhism. 

If the notion that the first principle requires monotheism is correct, then at least two of Indonesia’s recognized religions are obviously incompatible with Pancasila. 

Hinduism is henotheistic, meaning Hindus acknowledge the presence of other gods despite worshiping only one. That is why we see many gods in India such as Ganesha, Vishnu and Shiva. 

Buddhism includes no concept of a divine creator or deity; it is considered a nontheistic religion. Sometimes the words “a not-born, a not-brought-to-being, a not-made, a not-conditioned“ in Buddhist scripture are cited to support the claim that Buddhism has a creator. But a closer look at the text shows that the words refer to nirvana, not to a god. 

Are Hinduism and Buddhism unconstitutional? Do they deserve no place in Indonesia? Should they be banned? Our founding fathers should have anticipated this problem. 

Meanwhile, even if the misguided literal interpretation prevails, the people who lean on that to justify their stance against atheism will run into another problem. 

There is another foundational passage in Pancasila that addresses religious beliefs. This one stipulates that “the belief in one and supreme God must not be forced on another person.” 

This point is specific in nature, while the first principle is general. According to the legal doctrine of lex specialis, specific laws overrule general laws. This means that atheists have a right to their beliefs, and cannot be forced to espouse the views of others. Ironically, this shows that the people who try to force God on atheists are actually the ones infringing on Pancasila. 

Atheism does not violate Pancasila. All Indonesians may consciously and rationally choose their own beliefs. The country’s very foundation protects their right to do so. 

Yordan Nugraha is a student of international and European law at the University of Groningen in the Netherlands.

http://www.thejakartaglobe.com/opinion/the-thinker-is-atheism-allowed/493900


    • #atheism
    • #law
    • #interpretation
    • #pancasila
  • 1 year ago
  • 33
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia | Acceleration and Expansion of Indonesian Economic Development 2011-2025

What is MP3EI?

MP3EI is the Indonesian acronym for Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia, or, in English, the Master Plan for Acceleration and Expansion on Indonesia’s Economic Development, a 207 page document which lays out Indonesia’s ambitious plans to accelerate and expand economic growth. The Government has adopted MP3EI because economic growth has not reached an advanced and sustainable level and the Master Plan is needed for it to do so.

The intention of the Master Plan is to enable Indonesia to become one of the 10 major world economies by 2025. It contemplates a high degree of cooperation between the central government, local governments, state owned enterprises, and the private sector and a major change in mind set of all of them. The Government will act as a regulator, a facilitator and a catalyst to support economic growth. To do this, it will both amend and repeal regulations to remove bottlenecks and prevent roadblocks to investment. To act as a catalyst to investment, the Indonesian Government will provide fiscal and non-fiscal incentives and the private sector will be given a major role in economic development, particularly in the area of infrastructure.

MP3EI has two-prongs: acceleration and expansion. The acceleration prong is designed to achieve early completion of a number of existing key development programs. The expansion prong is intended to spread the positive effects of economic development to every region and among all components of the Indonesian community.



The Master Plan identifies six growth centres, or economic corridors, to boost economic development: Sumatra, Java, Kalimantan, Sulawesi, Bali – Nusa Tenggara and Papua – Maluku Islands. The main strategy of the Master Plan is to achieve economic development by focusing on these six economic corridors, by strengthening national connectivity throughout the archipelago, and by strengthening human resource capabilities, science and technology. The Master Plan identifies eight primary programs and 22 primary activities as the focus of development. The eight primary programs are: agriculture, mining, energy, industrial, marine, tourism, telecommunications and the development of strategic areas. The strategic initiative of the Master Plan is to encourage large-scale investment in 22 primary activities: shipping, textiles, food and beverages, steel, defense equipment, palm oil, rubber, cocoa, animal husbandry, timber, oil and gas, nickel, copper, bauxite, fisheries, tourism, food and agriculture, the Jabodetabek area, the Sunda Straits strategic area, transportation equipment, and information and communication technology.

The implementation of the Master Plan is coordinated by the National Economic Committee (or KEN) and the National Innovation Committee (or KIN).

The Master Plan recognises Indonesia must overcome a number of challenges: a failure to achieve value-added input in the agricultural and extractive industries; a developmental gap between western and eastern Indonesia; the lack of infrastructure support generally; a lack of connectivity between regions; inadequate quality of human resources; and rapid urbanisation.

Among the steps that will be taken to realise the Master Plan, are bureaucratic reform, including the legislature and judiciary, tax reform and incentives, the creation of special economic zones in each of the corridors, improved shipping and airline capability (ports and airports) to promote connectivity, and increased highschool and vocational training to improve human resources.

Many elements in the plan are unique points of departure for Indonesia. For example, the Master Plan states that the Government bureaucracy will support the needs of business and provide equal treatment and fair opportunities for all businesses, Government loans will be used to finance investment instead of routine expenditures, such as subsidies, subsidies will be for the poor directly rather than for goods, taxes will be on Indonesian sourced income and not worldwide income, taxes will be based on consumption rather than value added taxes, and employment regulations will be supportive of employers as well as employees.

(By Darrell R. Johnson)


Projects
Sumatra Economic Coridor











Java Economic Coridor








Kalimantan Economic Coridor





Sulawesi Economic Coridor





Maluku-Papua Economic Coridor





Bali-Nusa Tenggara Economic Coridor




More in http://www.itpchamburg.de/pdf/Home/E…20CORRIDOR.pdf

    • #economy
    • #indonesia
  • 1 year ago
  • 1
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
Happy Carl Sagan day!
Pop-upView Separately

Happy Carl Sagan day!

    • #Carl Sagan
  • 1 year ago
  • 5
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

“Yang luar biasa adalah bahwa setiap atom di tubuhmu berasal dari bintang yang meledak. Dan atom di tangan kirimu mungkin berasal dari bintang yang berbeda jika dibandingkan dengan tangan kananmu. Inilah kutipan fisika paling puitis yang pernah kuketahui. Kalian semua adalah debu bintang. Kamu tidak akan ada di sini jika bintang tidak meledak. Karena unsur-unsur seperti karbon, nitrogen, oksigen, besi, semua yang penting untuk evolusi, tidak ada pada masa dimulainya waktu. Unsur-unsur tersebut dibuat dalam pembakaran di bintang. Dan satu-satunya cara agar unsur-unsur tersebut bisa masuk dalam tubuhmu adalah jika bintang tersebut cukup bersedia untuk meledak. Jadi lupakan Yesus! Bintang-bintang mati agar kamu bisa ada di sini hari ini.” ~ Lawrence Krauss

    • #astronomi
    • #lawrence krauss
  • 1 year ago
  • 3
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
    • #evolusi
  • 1 year ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

cocologi:

Tuhan Yahweh di Cina Kuno?


Saya tergelitik melihat video cocologi yang berasal dari negara tetangga kita ini. Oknum gereja dari Singapura berusaha mencocok-cocokan ajaran Kristen dengan nilai-nilai primordial bangsa Cina. Tujuannya saya rasa jelas - menggiring lebih banyak domba ke gembalanya. Akan tetapi, bisa kita lihat bahwa sang gembala menggiring si domba dengan umpan yang membuat mereka manut begitu saja;mereka tak sadar bahwa umpan itu ternyata semu dan seluruh generasi mereka akan terperangkap dalam lingkaran setan cocologi.

Pertama, sang pencocologi membuka acara indoktrinasinya dengan menunjukkan bahwa orang Cina sudah menganut monoteisme kepada Shang Di dua ribu tahun sebelum Konfusianisme - dari tahun 2500 SM menurutnya. Mereka yang tidak kritis akan menelan bulat-bulat fakta ini. Nyatanya, dalam rentang waktu itu, sudah ada dewa-dewi lain. Fakta menunjukkan bahwa pada masa itu sudah ada dewa lain, bahkan lebih dahulu dari Shang Di! Contohnya, Hou Yi sang dewa pemanah yang sudah ada dari tahun 2170 SM, atau Chang’e Dewi Bulan istri Hou Yi.

Kalaupun cocologi Shang Di kepada Yahweh dipaksakan, ini masih bermasalah. Selain catatan pertama tentang Shang Di itu baru ada dari tahun 1600 SM dan bukan 2500 SM seperti yang didaku video di atas,[1] hakikat keduanya jelas sekali berbeda. Salah satu perbedaan yang paling mendasar yang langsung meruntuhkan cocologi ini adalah bahwa Yahweh bersifat imanen - selalu bercampur tangan kepada urusan dunia- sementara Shangdi itu transenden, tidak pernah melakukan campur tangan.[2] Lawrence Thompsons dalam bukunya Chinese Religion: An Introduction menekankan lebih lanjut bahwa konsep Shang Di tidak menjelaskan bagaimana alam semesta tercipta, dan bahwa dia hanyalah salah satu dari banyak Dewa. Perbedaan teologis semacam ini sangatlah besar, sehingga mencocokan keduanya merupakan sesuatu yang absurd.

Berikutnya, aksara-aksara Tionghoa yang baru - tekankan di sini, BARU - dicocok-cocokan dengan kisah alkitab. Tentu saja cocologi ini murahan, karena kita tahu bahwa aksara Tionghoa telah berevolusi; bentuknya dua ribu tahun yang lalu tidak sama dengan sekarang. Lantas mengapa mereka harus menggunakan aksara yang baru dan tidak yang lama? Tekankan bahwa Shang Di yang dicocok-cocokan ada dua ribu lima ratus tahun yang lalu, maka kalau mau mengasumsikan bahwa piktrogam Tionghoa menggambarkan Kejadian Lama, seharusnya tulisan lama juga dilihat. Lantas mengapa tidak? Alasannya sederhana, apalagi dalam salah satu bagian video itu, si pencocologi menampik salah satu aksara lama yang menurutnya sudah diganti Qin Shi Huang menjadi baru (dan bisa dicocok-cocokan) karena dia digerakkan oleh Tuhan. Ngomong-ngomong, Qin Shi Huang telah memerintahkan pembakaran buku-buku yang memusnahkan banyak mazhab filsafat di Cina, dan juga mencari obat umur panjang sampai dia menenggak merkuri dan mati karena dikira akan hidup abadi. Seperti inikah “digerakkan” oleh Tuhan? Ingat pula bahwa Sang Kaisar hidup pada saat Konfusianisme dan Buddhisme sudah ada.

Lebih lucu lagi, cocologi aksaranya tampak benar, tapi sebenarnya dipaksa benar. Contohnya, inter alia, ada aksara yang menunjukkan dua pohon di atas dan perempuan di bawah, lalu diklaim bahwa ini bukti aksara Cina menceritakan kisah kejatuhan Hawa. Satu hal lucu yang harus diperhatikan: pohon terlarang di Taman Eden hanya ada satu, bukan dua! Si pencocologi boleh saja mendaku ada pohon kehidupan dan terlarang, tapi alkitab tidak mengatakan demikian! Ada masalah teologis, yang tidak bisa sekadar disama-samakan, karena konsep ketuhanan Timur dengan Samawi itu sangatlah berbeda.

Jangan lupa untuk menanyakan pertanyaan skeptis sederhana: kalau memang bangsa Tionghoa sudah mengenal kisah Perjanjian Lama, mana kitabnya? Mana tulisannya? Bagaimana bisa I Ching atau kisah Batas Air bertahan dalam lautan waktu, sementara Perjanjian Lama yang diklaim menjadi dasar beberapa aksara Tionghoa tidak?

Ergo, secara teologis sangatlah jelas bahwa cocologi ini tidak ada bedanya dengan film Zeitgeist yang mencocok-cocokan Yesus dengan Horus, Dionysus, Mithra, dll. Saya hanya miris dengan banyak orang yang melepaskan hakikat sapiens mereka dengan percaya begitu saja tanpa memeriksa secara kritis. Inilah yang ditekankan cocologi atau Bucailisme - agar Anda menjadi penipu, menambah-nambahkan fakta, memotong yang tidak sesuai, dan lalu menyandingkan yang mirip. Sebaliknya, sains dan sejarah adalah musuh terbesar cocologi, karena keduanya berbicara tentang kebenaran, dan itu bukanlah sesuatu yang tak berarti.

Catatan kaki

[1] Robert Eno, “Early Oracle Inscriptions” in Donald S. Lopez Jr.’s Religions of China in Practice. 47. Lihat pula Muchou Poo’s In Search of Personal Welfare: A View of Ancient Chinese Religion (Albany, NY: State University of New York Press, 1996, ISBN 07914363606), 23-29. 

[2] Zhao, Yanxia. “Chinese Religion: A Contextual Approach”. 2010. Hal. 154

  • 1 year ago > cocologi
  • 10
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
Page 1 of 5
← Newer • Older →

Mimihitam

About

Avatar Aga kareba! Dalem naminipun Yordan. Lôn tuwan meuharap that bak rakan-rakan untôk neu bantu peu samporeuna Wiki Indonesia nyoë. Salam badangsanakan!

Web Site Hit Counter

My other entities in this cyber world

  • @yordan_313 on Twitter
  • Facebook Profile

Twitter

loading tweets…

Following

  • kevinsayshello
  • cocologi
  • criticube
  • RSS
  • Random
  • Archive
  • Ask me anything
  • Mobile
Effector Theme by Pixel Union