Mimihitam

  • Archive
  • RSS
  • Ask me anything
banner

Tawa terakhir Darwin

  Tawa terakhir Darwin 

  ditulis oleh Frans B. M. de Waal

diterjemahkan oleh Ignatius Yordan 

  

Frans B. M. de Waal, dalam membantah klaim yang menyatakan hal yang sebaliknya, menyatakan bahwa kita harus mencari kesamaan antara kejiwaan manusia dengan hewan lain untuk memahami kejiwaan keduanya.  

Pada tahun 1739, filsuf Skotlandia David Hume menulis: “Saat hipotesis diajukan untuk menjelaskan kejiwaan yang berlaku baik untuk manusia maupun binatang, kita harus menerapkan hipotesis yang sama untuk keduanya.” Satu abad kemudian, Darwin menunjukkan bahwa semua bentuk kehidupan berasal dari satu nenek moyang yang sama. Akan tetapi, hingga saat ini, gagasan bahwa manusia dan binatang memiliki karakteristik dan kemampuan yang sama (termasuk yang sifatnya kejiwaan) sebagai akibat dari sejarah evolusi yang sama masih sulit diterima beberapa orang.

Misalnya, dalam kritiknya terhadap pendekatan evolusioner kesadaran,1Johan Bolhuis dan Clive Wynne melabeli antropomorfisme Charles Darwin sebagai sesuatu yang tidak mungkin. Mereka mempertanyakan orang-orang yang seperti Darwin, yaitu yang meyakini bahwa “dalam kemampuan kejiwaan, tidak ada perbedaan yang mendasar antara manusia dengan mamalia besar lainnya.” Mereka menyatakan bahwa upaya untuk melacaktemu kesadaran yang seperti manusia dalam binatang lain mengakibatkan munculnya interpretasi yang berlebihan.

Saya tidak sependapat. Pendekatan antropodenial yang berlawanan – penolakan a priori terhadap kontinuitas antara manusia dengan hewan lain – telah membuat orang meremehkan binatang. 2 Hingga abad terakhir, psikolog komparatif telah memaksa binatang untuk melakukan tugas-tugas laboratorium yang tidak berkaitan dengan masalah mereka di alam. “Behaviourisme” ini tidak pernah memajukan pemahaman kita mengenai kesadaran yang kini maju berkat Darwinisme. 

Teori evolusioner memperkirakan kemiripan kognitif berdasarkan hubungan antara spesies dengan habitatnya. Teori tersebut juga memberi tahu kita bahwa apabila spesies yang berhubungan dekat (baik itu gurita dan cumi-cumi atau manusia dan simpanse) memberikan tanggapan yang mirip dalam keadaan yang mirip, interpretasi yang paling sedikit asumsinya adalah bahwa kognisi yang terlibat juga mirip. Manusia dan kerabat terdekatnya baru saja berpisah sehingga mengasumsikan bahwa leluhur bersama menunjukkan kognisi bersama bukan merupakan sesuatu yang antropomorfis.

Vanessa Woods dan bonobo, gambar oleh Vanessa Woods

Vanessa Woods dan bonobo, gambar oleh Vanessa Woods

Banyak bukti yang mendukung pernyataan ini, yang sebagian besar ditemukan karena peneliti telah menetapkan kapasitas manusia sebagai titik awal. Hanya manusia yang dianggap mampu mengenali wajah dari susunan hidung, mata, mulut, dan lain-lain. Namun, primata lain juga bisa dan substrat saraf yang terlibat juga mirip.3 Sementara itu, bonobo, monyet emas, dan berbagai mamalia sosial lainnya berciuman, merangkul, merawat, mengawini atau menyetubuhi lawan mereka setelah pertarungan. Menyebut hal ini sebagai “rekonsiliasi”, yang berasal dari interaksi antar manusia, merupakan sesuatu yang tepat karena hal-hal tersebut mengurangi stres dan memperbaiki hubungan sosial.4 Sebaliknya, upaya untuk mengkhususkan kemampuan manusia, seperti klaim mengenai budaya, imitasi, perencanaan dan kemampuan untuk menerapkan cara pandang orang lain, jarang dilakukan dengan cermat selama lebih dari satu dasawarsa.

Sejarah evolusi perilaku lain mungkin lebih panjang. Misalnya, semprotan oksitosin (hormon dan neurotransmitter yang dimiliki semua mamalia) di hidung dapat meningkatkan kecenderungan seseorang untuk membagikan uangnya. Hormon yang terkait, yaitu vasopressin, dapat memperkuat ikatan antar pasangan hewan pengerat, dan pengaruh oksitosin terhadap primata yang bukan manusia sedang diuji.

Bahkan spesies yang sedikit lebih jauh, seperti gajah, lumba-lumba, primata dan burung, sama-sama memiliki sejarah evolusi yang dapat menjelaskan kemiripan kognitif di antara mereka, sampai homologi dalam instruksi genetik yang mendasari mata dan otot lalat dan hewan pengerat. Misalnya, ilmuwan neurosains pertama kali menemukan neuron cermin dalam macaque, namun setelah itu mereka menemukannya dalam burung gereja rawa, yang menunjukkan bahwa neuron cermin ada dalam nenek moyang burung dan mamalia. Neuron tersebut menembakkan impuls saat sang hewan melakukan suatu tindakan dan saat ia melihat atau mendengar orang lain melakukan tindakan tersebut, dan neuron ini diduga mendasari imitasi dan empati pada manusia.

Beberapa kemiripan dalam perilaku merupakan akibat dari evolusi konvergen, yaitu saat spesies mengalami evolusi kemampuan kognitif yang mirip sendiri-sendiri karena mereka dihadapkan kepada tekanan seleksi yang berbeda. Misalnya, burung yang menyimpan makanan harus tahu kapan pesaing dapat melihatnya. Mereka menggunakan tipuan yang mirip dengan simpanse dan primata lain yang hidup di kelompok besar.5 Begitu pula monyet capuchin dan gagak Kaledonia Baru yang menggunakan cara yang sama karena masalah yang mirip. Akan tetapi, kita tak dapat mengabaikan peran nenek moyang bersama karena perbedaan otak burung dengan mamalia tidak seperti yang pernah dikira. 

Akhir kata, tidak ada alasan ilmiah yang bagus untuk tidak memperhatikan pendekatan evolusioner atau untuk mencemooh spekulasi Darwin mengenai kontinuitas antara manusia dengan hewan lain, termasuk “selera humor” – bahkan suara kera yang terengah-engah saat bermain diketahui mirip dengan tawa manusia. Siapapun yang mengamati primata, gajah atau gagak yang bermain juga akan menyadari bahwa Darwinlah yang tertawa terakhir. 

Referensi 

[1] Bolhuis, J. J. & Wynne, C. D. L. Nature 458, 832–833 (2009).  

[2] de Waal, F. B. M. (1999). Anthropomorphism and anthropodenial: Consistency in our thinking about humans and other animals. Philosophical Topics 27: 255-280. 

[3] Parr, L. A., et al. (2009). Face processing in the chimpanzee brain. Current Biology. 

[4] de Waal, F. B. M. (2000). Primates - A natural heritage of conflict resolution. Science 289: 586-590. 

[5] Emery, N. J., & Clayton, N. S. (2004). The mentality of crows: Convergent evolution of intelligence in corvids and apes. Science 306: 1903-1907.  

    • #evolusi
  • 1 year ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
    • #evolusi
  • 1 year ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Ular-ular Berbisa, Belut-belut Licin dan Harun Yahya

Artikel ini bukan diterjemahkan oleh saya, tapi oleh salah seorang teman saya. Terjemahan tulisan Richard Dawkins ini sengaja saya masukkan karena hoax Harun Yahya sudah terlanjur menyebar luas di masyarakat kita, bahkan sampai ditayangkan di sekolah-sekolah!

Ular-ular Berbisa, Belut-belut Licin dan Harun Yahya oleh Richard Dawkins

Diterjemahkan dari: http://richarddawkins.net/articles/2833

oleh Richard Dawkins

Pada tahun 2006, saya adalah salah satu dari puluhan ribu sarjana akademi di seluruh dunia yang menerima, tanpa diminta dan sepenuhnya gratis, sebuah buku besar yang mewah berjudul Atlas of Creation (Peta Penciptaan) yang ditulis oleh seorang Muslim Turki bernama Harun Yahya. Tesis dari buku tersebut, yang diterbitkan dalam sebelas bahasa, yaitu bahwa evolusi adalah palsu. ‘Bukti’ utama terdiri dari halaman demi halaman berisi foto-foto indah berbagai fosil hewan, dimana masing-masing fosil tersebut disertai dengan hewan modern yang setara yang disebutkan tidak berubah sama sekali sejak waktu terbentuknya fosil itu. Ini adalah buku berformat besar, buku-meja yang tebal dengan lebih dari 700 halaman high-gloss berwarna. Biaya produksi untuk buku semacam itu pastilah sangat tinggi, dan orang pasti akan bertanya-tanya darimana uang untuk memproduksinya lalu dibagi-bagikan secara gratis dalam begitu banyak eksemplar dan bahasa.

sea snake

Mengingat bahwa seluruh pesan yang disajikan dalam buku itu mengandalkan pada dugaan kemiripan antara binatang modern dan fosil pasangannya, saya merasa geli, ketika saya mulai membolak-balik secara acak, dan menemukan halaman 468 yang diperuntukkan bagi “belut”, satu fosil dan satu hewan modern. Tertulis dalam penjelasan gambarnya,

Terdapat lebih dari 400 spesies belut dalam ordo Anguilliformes. Bahwa belut-belut itu tidak mengalami perubahan apapun dalam jutaan tahun, sekali lagi menunjukkan tidak berlakunya teori evolusi.

Fosil belut yang ditunjukkan mungkin saja memang seekor belut, saya tidak yakin. Namun ‘belut’ modern yang ditunjukkan Yahya dalam foto tidak diragukan lagi bukanlah seekor belut melainkan seekor ular laut, kemungkinan jenis Laticauda yang sangat beracun (seekor belut, tentu saja, bukan ular melainkan ikan yang termasuk dalam kelas teleost). Saya belum melihat secara detil keseluruhan isi buku itu untuk mencari ketidaktepatan lain yang sejenis. Tetapi mengingat ini hampir merupakan halaman pertama yang saya lihat: Seberapa bernilaikah tesis buku ini yang mengatakan bahwa hewan-hewan modern tidak berubah sejak zaman pasangan fosil-fosil mereka?

Secara kebetulan, pada Mei 2008 Harun Yahya, yang nama sebenarnya adalah Adnan Oktar, dihukum di sebuah pengadilan Turki untuk menjalani tiga tahun penjara “karena menciptakan sebuah organisasi ilegal untuk kepentingan pribadi”

Catatan yang ditambahkan pada 8 Juli

pic 2

Kini saya telah melihat beberapa halaman lagi dari buku yang tidak masuk akal ini. Halaman ganda yang membentang pada halaman 54-55, 368-369, dan 414-415 semuanya diberi label ‘Crinoid’, dan semua ditujukan untuk menunjukkan betapa serupanya fosil semua crinoid kuno dengan yang modern. Hewan-hewan yang termasuk dalam divisi Crinoid adalah kerabat dekat bintang laut, anggota Echinodermata. Ketiga pemaparan itu memiliki penjelasan yang hampir sama. Ini yang tertulis pada halaman 54:

Fosil crinoid yang berusia 345 juta tahun ini, identik dengan pasangan-pasangannya yang masih hidup, menjadikan teori evolusi tidak berlaku. Crinoid-crinoid yang tidak berubah selama 345 juta tahun membuktikan ketidakbenaran teori evolusi, menyatakan penciptaan Tuhan sebagai fakta.

Dan ketiga paparan gambar tersebut menampilkan foto berwarna indah dari crinoid-crinoid modern untuk mengilustrasikan maksudnya. Kecuali bahwa, dalam ketiga kasus itu, hewan modern yang ditunjukkan dalam foto bukan crinoid. Bahkan bukan echinodermata. Malahan bukan deuterostome (sub-kerajaan dimana echinodermata, dan kita, termasuk di dalamnya). Para pembaca yang adalah zoologist akan mengenalinya sebagai cacing annelid berbadan silinder, seekor sabellid.

Pada halaman 402, terdapat empat foto fosil, dengan benar dinamai Brittlestar. Brittlestar adalah salah satu kelas utama echinodermata, selain bintanglaut, bulu babi, dan crinoid. Sekali lagi, kita menemukan kutipan penciptaan yang standar:

Fosil berumur 180 juta tahun ini menunjukkan bahwa brittlestar tetap sama selama 200 juta tahun. Hewan-hewan ini, tidak ada bedanya dengan yang hidup sekarang, sekali lagi membuktikan ketidakbenaran evolusi.

Disini kita tidak hanya menemukan satu tetapi dua foto hewan hidup untuk menggambarkan tidak adanya perbedaan dengan fosil-fosil. Salah satu dari hewan modern ini adalah brittlestar. Yang lainnya adalah seekor bintang laut! Anggota dari kelas echinodermata yang sama sekali lain dan jelas-jelas sangat berbeda bahkan hanya dengan melihat sekilas.

Akhirnya, PZ meminta perhatian kepada Pharyngula, tetapi saya menyertakan sebuah foto untuk lengkapnya. Pada halaman 244, Yahya ingin mengatakan bahwa lalat caddis tidak berubah sejak sejumlah serangga berumur 25 juta tahun terawetkan dalam batu amber. Sekali lagi, keterangannya:

Makhluk-makhluk hidup ini bertahan selamat selama jutaan tahun tanpa perubahan sedikitpun pada strukturnya. Kenyataan bahwa serangga-serangga ini tidak pernah berubah adalah tanda bahwa mereka tidak pernah berevolusi.

fishing lure

Sekarang, saatnya kita mengharapkan sesuatu yang cukup bagus saat kita melihat foto hewan modernnya. Seperti apa ‘lalat caddis’ modern itu? Seekor ikan air tawar mungkin? Seekor siput kebun? Seekor udang besar? Tidak, malah lebih bagus lagi: Seekor umpan pancing, lengkap dengan kait besi yang menyolok!

Saya kewalahan untuk menyesuaikan nilai produksi buku yang mahal dan glossy ini dengan “kebodohan yang menyesakkan” yang menjadi isinya. Apakah benar kebodohan, atau hanya kemalasan - atau mungkin kesadaran sinis dari ketidakpedulian dan kebodohan pembacanya yang jadi sasarannya - kebanyakan adalah para Muslim kreasionis (yang percaya pada cerita penciptaan). Lalu darimanakah uangnya berasal?

Catatan Tambahan (dari penerjemahan)

Ordo Anguilliformes: Ordo ikan panjang yang terdiri dari belut-belut. Semua ikan dalam ordo ini memiliki tubuh menyerupai-ular dan siripnya tidak bertulang panggul. Ordo ini termasuk juga belut air tawar (Anguilidae), belut moray (Muraenidae), dan belut conger (Congridae). (sumber: http://encyclopedia.farlex.com/order+Anguilliformes)

Crinoid: http://en.wikipedia.org/wiki/Crinoid

Cacing Annelid : Cacing dengan tubuh silinder yang bersegmen secara internal maupun eksternal. (sumber: Wordweb dictionary)



    • #evolusi
    • #harun yahya
  • 1 year ago
  • 1
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Memperkuat Nyamuk dengan Insektisida

Nyamuk adalah serangga yang seringkali dianggap mengganggu. Dengan suara dengungnya yang khas, mereka terbang mencari mangsa yang tidak sigap. Begitu target ditemukan, nyamuk langsung melesat, mendarat di epidermis, lalu menusukkan mulutnya yang tajam dan menghisap darah dengan nikmat. Zat-zat dan oksigen diserap, sementara mikroorganisme dari tubuh nyamuk masuk ke dunia manusia, siap mengganggu kebugaran dengan segala macam penyakit.

Maka manusia berusaha memusnahkan nyamuk dengan segala macam cara, dari metode tradisional hingga insektisida. Bahan-bahan kimia yang bersifat beracun dicampur untuk menghasilkan pemusnah nyamuk yang dalam iklan tampak sangat jitu.

Namun, hari ini saya terpikir sesuatu. Setelah menyemprot ruangan dengan insektisida, saya melihat masih ada nyamuk yang masih terbang dengan ria dan menunggu kesempatan untuk menggerayangi kulit saya. Kok bisa?

Saya mencoba melakukan percobaan pikiran. Misalkan dalam satu ruangan ada sepuluh nyamuk. Setelah ruangan disemprot dengan insektisida, delapan nyamuk ambruk, dan dua selamat. Dua nyamuk yang selamat itu lalu menghasilkan keturunan dan mewariskan sifat kebal mereka. Inilah yang disebut seleksi alam, yang dicetuskan Charles Darwin seabad yang lalu.

Maka sebenarnya penggunaan insektisida itu bukanlah metode pembasmian nyamuk yang efektif. Bukannya menghabisi nyamuk, kita malah memperkuat dan memperbugar mereka. Lebih buruk lagi, tak jarang bahan kimia dalam insektisida tersebut malah menjadi senjata makan tuan dan meracuni kita. Coup d’grace dari nyamuk secara tak langsung. Sama dengan seperti saat kita meminum obat. Mengapa, dokter menyuruh kita menghabiskan pil kita? Tujuannya sederhana, untuk menghabisi semua patogen yang ada. Jika kita tidak menghabiskan pil kita, patogen yang masih selamat akan berkembang biak, dan keturunan mereka akan menjadi kebal. Inilah seleksi alam yang telah membentuk keragaman makhluk hidup di Bumi.

Jadi, bagaimana seharusnya kita membasmi nyamuk? Kita basmi sarang-sarangnya. Pastinya, penggunaan insektisida itu tidak membasmi, justru malah memperkuat nyamuk, dan meracuni tubuh kita.

    • #evolusi
    • #seleksi alam
  • 1 year ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Mimihitam

About

Avatar Aga kareba! Dalem naminipun Yordan. Lôn tuwan meuharap that bak rakan-rakan untôk neu bantu peu samporeuna Wiki Indonesia nyoë. Salam badangsanakan!

Web Site Hit Counter

My other entities in this cyber world

  • @yordan_313 on Twitter
  • Facebook Profile

Twitter

loading tweets…

Following

  • kevinsayshello
  • cocologi
  • criticube
  • RSS
  • Random
  • Archive
  • Ask me anything
  • Mobile
Effector Theme by Pixel Union